Sunday, November 3, 2019

Berburu Makanan Tradisional untuk Berbuka Puasa di Argowijil

Lokasi Pasar Argiwijil, Gari, Wonosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Kamis (17/5/2018).

- Menikmati menu buka puasa dengan cara tidak biasa bisa ditemukan di Pasar Argowijil, Desa Gari, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta.

Pasar wisata kuliner ini buka setiap minggu pagi, namun selama bulan Ramadhan buka sore hari menjelang waktu berbuka puasa.

Menjelang sore, ratusan warga dari berbagai wilayah Kabupaten Gunungkidul mendatangi pasar yang terletak agak jauh dari pemukiman.

Jika dari kota Wonosari ke Nglipar, perempatan Dusun Karangtengah menuju ke arah Gading, di sana sudah ada papan petunjuk menuju pasar yang berdiri di atas tanah bekas pertambangan batu putih ini.

Puluhan pedagang berjejer di los pasar, mereka menjajakan makanan khas pasar tradisional tempo dulu seperti gelinding burung dara, krupuk warna, nasi jagung, botok manding, gatot, tiwul, gethuk, dan sejumlah makanan lainnya yang saat ini sulit ditemukan di pasar tradisional akan mudah ditemukan di Pasar Argowijil.

"Selama bulan Ramadhan kami membuka Pasar Argowijil sore hari, biasanya hanya buka minggu pagi," kata Lurah Pasar, Naryanto, Kamis (17/5/2018) petang.

Dia mengatakan Argowijil mengangkat konsep kuliner tradisional yang berbeda dari tahun sebelumnya.

Saat ini ada beberapa makanan tradisional berat, seperti tradisional luar Gunungkidul seperti pecel ponorogo. "Total untuk tahun ini yang daftar 90 orang pedagang yang berasal dari penduduk lokal," ucapnya.

Naryanto menjelaskan, untuk menambah daya tarik dan kenyamanan pengunjung, pihaknya membuat lampu dengan keranjang bambu, yang biasa untuk menaruh buah atau bunga.

Pasar tersebut dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gari. "Di sini semuanya dikonsep untuk mengakomodir masyarakat sekitar," katanya.

Menurut Nuryanto, nama Pasar Argowijil memiliki arti bahwa Argo dalam bahasa Jawa adalah "gunung atau gunungan", sedangkan wijil itu merupakan nama kawasan tersebut.

Pada awalnya Gunung Wijil ditambang oleh masyarakat sekitar untuk bahan material membangun muhala sekitar tahun 1976-an.

Saturday, November 2, 2019

Berburu Aneka Motif Tenun Ikat Sikka di Kota Maumere

Aneka kain tenun ikat di Galeri Sonya Tenun di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (9/5/2019).

Tidak lengkap rasanya berkunjung ke Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur jika belum membeli kain tenun ikat untuk oleh-oleh bagi keluarga di rumah.

Di kota Maumere, wisatawan lokal, nusantara, dan mancanegara tidak begitu susah mencari tempat jualan kain tenun ikat Sikka. Hampir setiap pasar di kota Maumere ada penjual kain tenun ikat itu.

Selain di pasar, warga Sikka sudah mulai membuka usaha kain tenun ikat dengan membuka galeri tenun.

Galeri tenun menjadi sarana promosi kain tenun. Usaha ini sudah mulai banyak diminati para pebisnis dan pecinta tenun ikat di Maumere. Boleh dibilang, ini gaya baru mempromosikan kain tenun ikat Sikka kepada konsumen.

Salah satu yang tidak ketinggalan membuka galeri tenun ikat ini adalah ibu Anjelita Sonya Da Gama. Ia membuka galeri tenun ikat Sikka dengan nama 'Sonya Tenun'.

Galeri Sonya Tenun ini berada di Jalan Moa Toda, Kelurahan Kota Baru, Kabupaten Sikka. Galeri tenun ini berada di pusat kota Maumere.

Beraneka motif dan warna kain tenun ikat yang dipajang untuk dijual di Sonya Tenun ini.

Sonya demikian ia disapa menuturkan, di Galeri Sonya Tenun menyiapkan segala macam yang berhubungan dengan budaya, seni, dan kerajinan dari 6 etnis yang ada di Kabupaten Sikka.

"Semuanya ada. Mulai dari Sikka, Sikka Iwang, Tana Ai, Palue, Kidung, dan Maumere Lio. Yang ada di sini itu kain-kain tenun ikat. Sementara ini, ada beberapa kain tenun yang dibuat tahun 70-an. Ke depan saya rencana kalau bisa semua motif kain tenun itu ada di sini. Jadi itu, untuk dijadikan museum mini kain tenun ikat," tutur Sonya kepada Kompas.com, Kamis (9/5/2019).

Ia menjelaskan produk-produk dari kain kain tenun ikat yang dijual di galeri itu beraneka ragam. Mulai dari tas, topi, anting, selendang, dompet, sandal, sepatu, bahkan ada gantungan kunci.

Ia mengatakan, aneka produk kain tenun yang dijual di galeri itu juga merupakan hasil kerja sama dengan UKM di luar kota.

Sementara itu, untuk lembaran kain tenun dibeli dari langsung di penenun dari ujung perbatasan Flores Timur sampai di perbatasan Paga Ende.

"Konsep keduanya, tempat ini jadi tempat display buat teman-teman UKM yang ada di luar kota, kecamatan desa. Mungkin mereka tidak punya tempat untuk jualan, bisa dititip di sini," ungkap Sonya.

Ia mengaku memulai bisnin kain tenun ikat sejak tahun 2011. Inspirasinya muncul pada tahun 2010.

"Waktu itu banyak mengunakan batik. Dari situ muncul, mengapa tidak buat dari kain tenun ikat Sikka saja," kata Elis.

Begini Prosedur Pengajuan Visa Jepang di Japan Visa Application Centre

Japan Visa Application Centre di Jakarta.

Kabar gembira bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Jepang. Kini proses pengajuan visa tak lagi harus dilakukan di Kedutaan Besar Jepang di Jalan M.H Thamrin, Jakarta.

Kedutaan Besar Jepang membuka Japan Visa Application Centre (JVAC), sebuah layanan terpadu untuk mengajukan visa ke Jepang yang resmi beroperasi pada Jumat (15/9/2017).

JVAC berlokasi di Mal Lotte Shopping Avenue, Jalan Prof Dr Satrio Nomor 3-5, Jakarta. JVAC bertempat di lantai 4 unit 33, tepatnya di sebelah bioskop XXI.

Ada beberapa prosedur yang harus dilalui oleh para pengaju visa ke Jepang di JVAC. Seperti yang dirangkum oleh KompasTravel dari acara inagurasi JVAC, Jumat (8/9/2017).

1. Waktu pengajuan aplikasi visa di JVAC dilaksanakan selama delapan jam, dari pukul 09.00-17.00 WIB.
2. Waktu pengambilan visa di JVAC dilaksanakan selama lima jam, antara pukul 10.00-15.00 WIB.
3. Tersedia 15 loket untuk pengajuan visa di JVAC. Untuk menghemat waktu, calon pengaju visa dapat melakukan reservasi pengajuan visa di situs resmi JVAC.
4. JVAC tutup pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur Kedutaan (hari libur nasional).
5. Biaya logistik untuk aplikasi visa Jepang dan Registrasi Bebas Visa e-paspor di JVAC dikenakan biaya per paspor. Dengan biaya Rp 155.000 untuk aplikasi visa, dan Rp 115.000 untuk registrasi bebas visa e-paspor.
6. Proses pengajuan hingga pengambilan visa membutuhkan waktu lima hari kerja, terhitung dari hari pengajuan. Setelah mengajukan bisa, pengaju dapat mengecek status visa melalui internet.
7. Bagi yang berdomisili di wilayah yurisdiksi Konsulat Jenderal Surabaya, Medan, Denpasar dan Kantor Konsuler Makassar, pengajuan tetap dilakukan di konsulat jenderal atau kantor konsuler masing-masing.
8. Mulai 15 September 2017, Kedubes Jepang tidak menerima lagi aplikasi visa, kecuali untuk pengajuan aplikasi visa registrasi bebas visa e-paspor (yang juga bisa diajukan di JVAC), visa diplomatik dan visa dinas, transfer visa dari paspor lama ke paspor baru, penerbitan visa yang berkaitan dengan masalah darurat kemanusiaan.

JVAC juga menyediakan layanan lain untum membantu pengajuan aplikasi visa seperti bantuan pengisian formulir aplikasi, photo booth, fotokopi, layanan informasi status visa lewat sms, dan pembayaran biaya visa lewat kartu kredit tentunya dengan biaya tertentu.

Perlu dicatat, meski proses pengajuan dan pengambilan visa ke Jepang dapat dilakukan di JVAC, tetapi keputusan akan penerbitan visa tetap dilakukan oleh pihak Kedubes Jepang.

Berapa Minimum Biaya Diving untuk Pemula di Raja Ampat?

Para diver wisatawan mancanegara diving di spot Kampung Wisata Yenbuba, di Pulau Manswar, Raja Ampat. Laut yang jernih, biota yang kaya, serta masih cukup terawat membuatnya jadi salah satu spot diving favorit di Raja Ampat.

Salah satu cara terbaik menikmati Raja Ampat adalah dengan menyelam atau diving. Bagi para penyelam, inilah biaya terkini untuk menyelam mulai bujet minimum di Raja Ampat, Papua Barat.

Raja Ampat memiliki 76dive spot yang sudah terdata dari 2.013 pulau besar maupun kecil. Jadi penyelam akan sangat puas mengeksplor keindahan bawah laut Raja Ampat.

Namun, letaknya yang cukup jauh dari pulau ke pulau membuat wisata di Raja Ampat membutuhkan biaya untuk transportasi kapal yang cukup tinggi. Dengan speedboat kapasitas 7-12 orang biaya perjalanan ke pulau-pulau mulai Rp 3-6 juta.

Sedangkan untuk diving dikelola oleh dive resort atau dive center di masing-masing pulau yang memiliki titik selam masing-masing. Jadi biaya biasanya di luar paket tur yang ada.

"Untuk satu kali diving itu berbeda-beda tiap dive resort. Mulai Rp 600.000 - Rp 750.000 tergantung jauh tidak spotnya, dan biasanya yang bagus makin mahal," ungkap Husen, salah satu guide senior di Raja Ampat kepada KompasTravel, Kamis (19/10/2017).

Biaya tersebut dikenakan jika diver membawa peralatannya sendiri, di luar tabung selam. Jadi mulai skin dive (baju selam), fin (kaki katak), masker selam, dan yang lainnya. Sedangkan jika hanya membawa badan saja, biaya alat dan total satu kali penyalaman berkisar Rp 1,1 juta sampai Rp 1,2 juta.

Karena pegelolaan diving dikelola masing-masong dive resort di pulau tersebut, oleh karena itu mayoritas biaya diving akan diperuntukkan bagi masyarakat yang ada di pulau tersebut. Salah satunya di desa wisata percontohan Arborek, distrik Meos Mansar.

"Ya diving ini jadi salah satu pemasukan untuk masyarakat," ujar Frans, guide dive (budies) untuk Pulau Arborek, Raja Ampat, saat dikunjungi KompasTravel, Kamis (19/10/2017).

Selain itu juga untuk budies, sewa dan isi tabung selam, hingga bensin kapal khusus menyelam yang akan membawa penyelam dari pulau ke titik selamnya.

Friday, November 1, 2019

5 Destinasi Wisata di Indonesia Favorit Trinity Traveler

Panorama perairan Pulau Bawah di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Riau.

Penulis buku The Naked Traveler, Trinity berbagai cerita mengenai buku terakhir The Naked Traveler yang ke-8 saat berkunjung ke kantor Kompas.com pada penghujung 2018.

Selain cerita mengenai pembuatan buku Trinity juga bercerita mengalami pengalamannya selama berwisata baik di dalam maupun di luar negeri. Tak terkecuali, destinasi favorit Trinity untuk berwisata di dalam negeri.

Ketika diminta meringkas menjadi lima destinasi, berikut adalah pilihan Trinity untuk destinasi favorit di dalam negeri. Siapa tahu bisa menjadi inspirasi tujuan berwisata berikutnya.

Kecantikan alam baik kepualuan maupun di bawah laut ternyata memikat Trinity. Buat para petualang yang cinta wisata bahari seperti Trinity, rasanya Raja Ampat, Papua Barat memang menjadi destinasi wajib dalam negeri. Trinity dikenal handal berenang, menyelam dan, menyelam tanpa alat.


Selain Raja Ampat, destinasi wisata bahari lain yang mendunia di Indonesia adalah Perairan Komodo di NTT. Uniknya di Perairan Komodo ada berbagai aktivitas yang dapat dilakukan wisatawan selain snorkeling atau berenang. Bisa mendaki pulau, mengunjungi komodo di Taman Nasional, dan mencoba menginap beberapa hari di kapal.

Trinity menyebutkan dirinya suka Kepulauan Banda di Maluku karena nilai sejarah yang tinggi dan juga belum banyak turis berkunjung ke sini. Kepulauan Banda Neira merupakan tempat pengasingan tokoh nasional seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri, dan Cipto Mangunkusomo.

Di Kepulauan Banda wisatawan dapat mengunjungi pulau-pulau cantik, terutama Pulau Run yang pernah ditukar Belanda dnegan Manhattan, New York. Menyelam dan mendaki gunung juga dapat dilakukan di Kepulauan Banda.

Buat Trinity Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur adalah destinasi yang komplit. Mencari wisata bahari, pegunungan, budaya, semua ada di pulau ini. Apalagi penduduk di Pulau Flores terkenal sangat ramah kepada siapa saja.

Tak ada salahnya ketika punya cuti panjang, bertualanglah dari Labuhan Bajo dan berakhir di Larantuka.

Terletak di Provinsi Kepulauan Riau, disebut sebagai Raja Ampatnya Barat Indonesia lantaran perairan yang biru jernih dan gugus pulau cantik. Ada 238 pulau di Kepualauan Anambas. Dengan alam bawah laut yang juga terkenal komplit. Kepulauan Anambas disukai oleh para penyelam dalam maupun luar negeri.

Bendera Sepanjang 4 Kilometer Dikibarkan di Jembatan Merah Putih Ambon

Ketua Organization Comite Festival Jembatan Merah Putih (FJMP) 2017, Muhamad Iksan Tualeka saat memberikan keterangan kepada wartawan terkait pelaksanaan Festival JMP di Ambon, Maluku, Jumat (11/8/2017) sore.

- Untuk pertama kalinya Festival Jembatan Merah Putih (FJMP) 2017 bakal segera diselenggarakan di Kota Ambon, Maluku. Kegiatan yang diselenggarakan untuk mempromosikan pariwisata di Maluku itu akan dipusatkan di Jembatan Merah Putih Ambon.

Selain bertujuan mempromosikan pariwisata di Maluku, kegiatan yang mengusung tema Merajut Merah Putih, Merawat Kebhinekaan itu juga bertujuan untuk memperkokoh nilai kebangsaan dan kebhinekaan sesama anak bangsa di Maluku.

Sejumlah pihak akan terlibat langsung dalam festival itu seperti Empower Youth Indonesia (EYI) Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) 56 dan Insight of Indonesia (IOI) dan juga Kamar Dagang Indonesia (Kadin).

Kegiatan itu juga akan didukung oleh Pemerintah Provinsi Maluku, Kodam XVI Pattimura, Polda Maluku dan Universitas Pattimura Ambon.

Muhamad Iksan Tualeka, Ketua Organization Committee FJMP 2017 mengunguraikan sejumlah rangkaian kegiatan akan digelar dalam festival tersebut, mulai dari pembentangan bendera Merah Putih di atas jembatan terpanjang di Indonesia timur, talk show pariwisata, seni dan budaya, pemutaran film hingga diskusi tentang pariwisata dan kebangsaan.

Pelaksanaan FJMP 2017 akan dipusatkan di Jembatan Merah Putih bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Provinsi Maluku tanggal 19 Agustus 2017, kata Iksan dalam acara konferensi pers di Ambon, Jumat (11/8/2017) sore.

Dia menjelaskan khusus untuk kegiatan pembentangan bendera Merah Putih di sepanjang Jembatan Merah Putih Ambon akan melibatkan ribuan pemuda, pelajar dan mahasiswa di Kota Ambon.

Dalam kegiatan itu bendera yang dibentangkan secara berjejer akan dijahit secara bersamaan untuk menyambungkan bendera tersebut.

Jadi nanti dijahit waktunya itu secara bersamaan dan kita beri waktu 10-15 menit. Yang jahit itu perempuan. Mengapa perempuan? Karena bendera pusaka kita dijahit oleh seorang perempuan bernama Fatmawati, ujarnya.

Iksan mengungkapkan bendera Merah Putih yang akan dibentangkan itu merupakan sumbangan dari berbagai pihak seperti perwakilan organisasi pemuda, pemerintah daerah TNI/Polri dan sejumlah pihak lainnya.

Saat ini sudah terkumpul 4.000 meter bendera Merah Putih yang siap dibentangkan di sepanjang sisi kiri dan kanan jembatan tersebut.

Dia mengatakan pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pihak Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri) dan acara itu bakal masuk dalam rekor Muri.

Apakah Pemudik di Jawa Lebih Pilih Hotel Saat Mudik Lebaran?


Tren menginap di hotel saat Lebaran menjadi pilihan pemudik khususnya di wilayah Pulau Jawa. Hal itu diungkapkan oleh Chief Officer Communication & Co-Founder Tiket.com, Gaery Undarsa.

"Kalau dulu menginap di rumah orang tua atau keluarga, belakangan kami perhatikan orang mulai banyak booking hotel saat lebaran," kata Gaery kepada wartawan Jakarta, Selasa (30/5/2017).

Ia memantau biasanya tingkat pemesanan kamar hotel terbilang rendah. Namun, mulai tahun 2016 tren menginap di hotel saat Lebaran meningkat terutama di Pulau Jawa.

"Kita melihat survei itu tren menginap di hotel itu tinggi. Kita melihat tren itu mulai dari tahun lalu sebenarnya. Menurut saya itu bukan untuk liburan tapi untuk Lebaran," jelasnya.

Biasanya hotel-hotel yang banyak terisi pada saat Lebaran adalah daerah yang menjadi destinasi mudik. Gaery menyebut destinasi-destinasi tersebut seperti Yogyakarta, Semarang, dan Cirebon.

" Hotel sekarang juga sudah murah. Itu sedang ingin kami pelajari tren itu. Dari tahun lalu sudah mulai naik (pemesanan kamar hotel saat Lebaran)," ujarnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI), Haryadi Sukamdani membenarkan tren menginap di hotel pada saat lebaran. Ia juga mengatakan hotel-hotel di daerah yang menjadi destinasi mudik akan naik okupansinya.

"Kalau di daerah tujuan mudik itu seperti Yogyakarta, Solo, Malang, Cirebon, Bandung. Biasanya puncaknya empat hari sebelum Lebaran dan mulai menurun empat hari sebelum Lebaran," kata Haryadi saat dihubungi KompasTravel.

Menurut Haryadi, pemilihan hotel sebagai tempat penginapan lantaran pemudik sudah tak punya keluarga di kampung halaman atau hanya ziarah kubur. Selain itu, faktor tak ada rumah di kampung halaman juga melatarbelakangi alasan menginap di hotel.

"Kalau tren ini sebenarnya sudah lama. Sekitar 15 tahun yang lalu," ujarnya.

Seorang warga Banten, Farchan Noor Rahman mengatakan tahun lalu sempat menginap di hotel pada saat Lebaran. Namun, kala itu Farchan hanya menginap satu hari di hotel saat mudik ke Yogyakarta.